BLITAR — Semarak syiar bulan suci Ramadhan terus berlanjut di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Miftahul Huda, Kedungbunder, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Melanjutkan rangkaian kegiatan sebelumnya, kali ini madrasah menggelar Pondok Ramadhan (Ponrom) yang dikhususkan bagi para siswa-siswi kelas 3 dan 4 selama dua hari, yakni pada Rabu hingga Kamis, 11-12 Maret 2026.
Pada hari pertama, Rabu (11/3), rangkaian kegiatan dibimbing langsung oleh para dewan guru kelas 3 dan 4. Mengawali pagi yang berkah, anak-anak diajak untuk melaksanakan shalat Dhuha berjamaah dan dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an.
Menariknya, materi Pondok Ramadhan kali ini juga menyentuh aspek fardhu kifayah dan pelestarian tradisi ulama Nusantara. Para siswa diajarkan tata cara dan praktik shalat Jenazah secara langsung. Selain itu, anak-anak juga dilatih melestarikan khazanah Islam Nusantara melalui kegiatan menulis huruf Pegon (huruf Arab berbahasa Jawa/Indonesia). Pembelajaran ini sangat penting agar generasi muda madrasah tidak melupakan akar tradisi literasi para ulama terdahulu.
Memasuki hari kedua, Kamis (12/3), semangat para peserta didik tidak surut. Kegiatan kembali dibuka dengan pembiasaan shalat Dhuha dan tadarus Al-Qur’an. Namun, ada yang istimewa pada hari kedua ini. Sesi kajian Islam tidak dibawakan oleh bapak/ibu guru, melainkan menghadirkan kakak-kakak hebat dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).
Hadir di tengah-tengah siswa, Rekan Muhnur Halimi, Rekanita Adyla Wijayanti, dan jajaran pengurus lainnya yang membagikan materi kajian Islam dengan gaya khas pelajar yang segar dan interaktif. Kolaborasi ini tidak hanya bertujuan untuk memperdalam ilmu agama, tetapi juga untuk mengenalkan dan menumbuhkan semangat berorganisasi sejak dini berlandaskan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Pihak MIS Miftahul Huda berharap, melalui beragam materi yang padat dan bermanfaat selama dua hari ini, siswa-siswi kelas 3 dan 4 dapat meningkatkan kedisiplinan beribadah. Lebih dari itu, wawasan keislaman mereka diharapkan semakin luas, mencakup pemahaman ibadah sosial seperti shalat jenazah, kebanggaan menulis Pegon, hingga semangat menjadi kader-kader muda NU di masa depan.




